MANAJEMEN PERUBAHAN
PENGANTAR
Apabila para manajer memikirkan
masa depan organisasi-organisasi meeka pada abad ke-21, maka mereka kiranya
tidak dapat mengelakkan diri dari perubahan dan kegiatan perubahan. Persoalan
yang berkaitan dengan kegiatan memanage perubahan, makin lama makin banyak
bermunculan dalam warta-warta harian, majalah, artikel-artikel, dan
pidato-pidato yang disampaikan untuk kepentingan khalayak ramai.dalam kurun
waktu puluhan tahun, telah kita menyaksikan aneka macam perubahan yang terjadi,
baik perubahan yang kurang berarti, maupun perubahan yang menimbulkan dampak
luas dalam sejarah umat manusia.
MEMANAGE PERUBAHAN
Topik
memanage perubahan merupakan sebuah topic, yang paling dekat dengan penguraian
totalitas tugas manajer. Hamper segala sesuatu yang dilakukan seorang manajer
hingg tingkat tertentu berkaitan dengan implementasi perubahan. Hampir setiap
kali seorang manajer mengambil suatu keputusan, maka keputusan tersebut
menyangkut tipe perubahan tertentu. Perubahan merupakan sebuah fakta kehidupan
pada semua organisasi.
Perubahan
itu menunjukkan tingkatan-tingkatan yang
berbeda, yang berkisar sekitar perubahan yang kurang berarti pada sebuah
prosedur kerja, hingga perombakan total pada struktur suatu organisasi.setiap
manajer dalam upaya memanage proses
perubahan secara efektif, perlu memahami
atau memiliki pemahaman tentang motivasi, kepemimpinan, dinamika kelompok,,
politik keorganisasian, konflik, determinan-determinan perilaku, dan
komunikasi(Gray,Starke,1984:552).
TINGKAT-TINGKAT
PERUBAHAN KEORGANISASIAN
1. Pengantar
Ada dua macam metode untuk
menganalisis tingkat-tingkat perubahan keorganisasian. Salah satu metode adalah
mempelajari tingkat-tingkat individu kelompok dan tingkat keorganissian, dan
metode kedua adalah mempelajari tingkat perubahan yang diperlukan pada kelompok
yang dipengaruhi oleh perubahan tersebut. Kombinasi antara tingkat dan derajat
atau tingkat perubahan menghasilkan sebuah marikx hubungan-hubungan tersebut.
Matriks 1: contoh-contoh interaksi
antara tingkat-tingkat dan derajat perubahan.(Gray,Starke, 1984:553)
INDIVIDUAL
|
KELOMPOK
|
ORGANISASI
|
Promosi
individu-individu
|
Tambahan
karyya baru pada kelompok yang ada
|
Ciptakan
departemen staf baru
|
Program
pelatihan untuk
|
Lemburkan
kelompok-kelompok
|
Pengurangan
angkatan kerja
|
Ganti
C.E.O
|
Bubarkan
kelompok kerja
|
Restrukturisasi
organisasi secara besar-besaran
|
Kecil
Menengah
Besar
Ket : Derajat Perubahan
2. Perubahan pada tingkat individual
Perubahan-perubahan pada tingkat individual
jarang menimbulkan implikasi signifikan, bagi orang yang bersangkutan secara
total, walaupun terdapat kekecualian tertentu pada saat-saat tertentu.
Menurut teori system social, setiap perubahan
si dalam suatu system, akan memengaruhi bagian-bagian lain dari system
tersebut, tetapi dampak yang timbul sering kali kurang berarti. Setiap manajer,
yang ingin melakukan suatu perubahan penting pada tingkat individual, perlu
mengingat bahwa perubahan tersebut kiranya akan menimbulkan dampak-dampak
diluar individu yang bersangkutan. Misalnya, apabila seorang manajer memutuskan
untuk memindahkan seorang karyawan, maka hal tersebut dapat mengganggu
pelaksanaan fungsi social kelompok kerja yang ada. (Gray, Starke, 1984).
3. Perubahan padat tingkat kelompok
Perubahan keorgasisasian kebanyakan
menimbulkan dampak besar pada tingkat kelom-pok. Hal tersebut disebabkan oleh
karena kebanyakan kegiatan di dalam
organisasi-organisasi di organisasi pada basis kelompok. Kelompok yang dimaksud
mungkin berupa departemen-departemen, tim proyek, unit-unit fungsional di dalam
departemen-departe-men, atau kelompok-kelompok kerja informal.perubahan-perubahan
pada tingkat ini dapat memengaruhi arus
pekerjaan, esain pekerjaan, organisasi sosial, demikian, para manajer dalam hal
mengimplementasikan perubahan, perlu mempertimbangkan faktor-faktor kelompok.
Kelompok-kelompok informal dapat menjadi
kendala-kendala terhadap perubahan, karena kekuatan inharen yang dimiliki oleh mereka. Mengingat
pengaruh besar, yang dapat ditimbulkan oleh kelompok-kelompok terhadap
individu-individu, maka imple-mentasi perubahan secara efektif, pada tingkat
kelompok sering kali dapat mengatasi tentangan pada tingkat individual. (Gray,
Starke, 1984).
4. Tingkat Keorganisasian
Perubahan yang terjadi pada tingkat
keorganisasian pada umumnya dinyatakan orang sebagai pengambangan organisasi
(organizational development).
Adapun contoh-contoh perubahan demikian, berupa:
Tindakan reorganisasi struktur dan tanggung jawab organisasi yang bersangkutan,
perombakan total system imbalan perusahaan tersebut, atau perubahan-perubahan
besar dalam sasaran-sasaran organisasi yang bersangkutan. Hubungan antara
ketiga macam tigkatan perubahan digambarkan pada gambar berikut:
SUMBER
DAMPAK
|
INDIVIDU
|
KELOMPOK
|
ORGANISASI
|
INDIVIDU
|
-
|
B
|
B
|
KELOMPOK
|
M
|
-
|
B
|
ORGANISASI
|
K
|
M
|
-
|
Keterangan:
K = Kecil
M = Menegah
B =
Besar
Gambar 1 : Dampak Interaksi dari
Berbagai Macam Tingkatan Perubahan Keorganisasian
Gambar tersebut menunjukan bahwa
perubahan-perubahan yang terjadi pada sesuatu tingkat memengaruhi
tingkat-tingkat lain dimana dampak dominan berlangsung dari tingkat
keorganisasian total, ke bawah hingga tingkat individual. Kekuatan dampak
tersebut akan bervariasi dengan sumbernya; misalnya perubahan-perubahan
keorgani-sasian cenderung akan menimbulkan perubahan-perubahan besar pada
individu-individu, tetapi individu-individu akan menimbulkan dampak minimal
atas organisasi-organisasi. Kelompok atau tingkat menengah, cenderung
menimbulkan dampak moderat atas individu-individu dan organisasi. (Gray,
Starke, 1984).
SEJUMLAH DASAR ATAU
FUNDAMEN, DALAM KEGIATAN MENGUBAH SUATU ORGANISASI
1. Pengantar
Perubahan-perubahan didalam organisasi distimulasi oleh berbagai macam
kekuatan eksternal, maupun internal, yang sering kali berinteraksi satu sama
lain dalam kenyataan. Organisasi-organisasi tidak mau, harus berubah atau
mengalami perubahan, karena mereka merupakan sistem-sistem terbuka, yang berada
dalam interaksi konstan dengan lingkungan yang mengelilingi mereka. Hal
tersebut terjadi melalui unsure: input dan output bahan-bahan, energy dan
informasi. Proses-proses arus perluasan batasan tersebut menjadi perhatian para
manajer umumnya tentang adanya kondisi-kondisi yang terus menerus berubah, dan
keharusan untuk melaksanakan perubahan.
2. Sejumlah Sumber yang Menyebabkan Timbulnya
Perubahan
Ada berbagai macam sumber penyebab perubahan keorganisasian. Proses yang
berlangsung, dapat kita tinjau dari sudut pandang suprasistem lingkungan,
maupun dari sudut pandang subsistem-subsistem keorganisasian (dengan hal-hal
berikut yang teknikal, structural, psikososial, seta manajerial). Kerangka
pemikiran system dapat dimanfaatkan untuk mengilustrasikan aneka macam sumber
atau organisasi-organisasi. (Kast, Rosenzweig, 1974:575-577)
3. Perubahan organisasi sering kali
distimulasi oleh perubahan-perubahan yang terjadi di dalam lingkungannya.
Lingkungan umum dimana organisasi-organisasi sebagai system terbuka
berada mencakup sisi: teknologikal – ekonomi – hokum – politik – demografik –
ekologikal - dan factor-faktor yang disebut, terjadi dengan kecepatan yang
makin meningkat. Didalam lingkungan umum tersebut, masing-masing organisasi
memiliki suatu kelompok factor-faktor yang lebih spesifik (lingkungan tugasnya)
yang bersifat relevan bagi proses-proses pengambilan keputusannya.
Organisasi-organisasi secara tipikal berupaya mengantisipasi
perubahan-perubahan yang mungkin akan terjadi, dan menyesuaikan diri dengannya.
4. Persoalan Tujuan-tujuan Serta Nilai-nilai
Factor lain yang menimbulkan adanya perubahan muncul dari
modifikasi-modifikasi tujuan-tujuan suatu organisasi. Perubahan-perubahan dalam
nilai-nilai (hal yang dianggap baik, dan yang didambakan) juga penting, karena
mereka menyebankan terjadinya perubahan-perubahan dalam tujuan-tujuan (suatu
organisasi). Adakalanya tujuan-tujuan tidak berubah, tetapi perubahan-perubahan
dalam nilai-nilai dapat menyebabkan timbulnua perubahan dalam hal yang dianggap
sebagai perilaku yang “Pantas” . Ttujuan-tujuan baru dapat dipaksakan karena
sumber eksternal, misalnya peraturan-peraturan pemerintah tentang sifat-sifat
keamanan suatu produk. Strategi keorganisasian merupakan sebuah fungsi dari
sejumlah factor, seperti peluang-peluang yang muncul dari lingkungan manajerial
dan tanggung jawab sosial.
5. Persoalan Teknikal
System teknikal merupakan sebuah sumber jelas bagi perubahan
keorganisasian. Metode-metode baru guna memproses bahan-nahan dan atau
informasi merupakan contoh-contoh dramatis. Mekanisasi otomasi seta
komputerisasi telah menyebabkan timbulnya pengaruh luas di dalam
organisasi-organisasi. Perubahan-perubahan demikian telah menyebabkan timbulnya
dampak besar ats subsistem-subsistem lainnya-misanya subsistem structural dan
psikososial didalam organisasi-organisasi.perubahan-perubahan teknikal mencakup
bentuk dan atau suatu produk (desain produk) atau servis maupun proses
transformasi yang digunakan oleh organisasi yang bersangkutan.
6. Persoalan structural
Sumber lain terjadinya perubahan keorganisasian adalah subsistem
struktural. Jelaskan kiranya bahwa perubahan-perubahan demikian berkaitan
dengan perubahan-perubahan pada subsistem-subsistem lainnya. Tetapi perlu
diingat penyesuaian-penyesuaian dalam struktur tepat,apabila semua aspek
lainnya bersifat relative stabil. Orang dapat mendesain cara-cara berbeda untuk
membagi pekerjaan yang ada, dan atau diciptakannya cara-caa baru untuk
melaksanakan kegiatan pengorganisasian, agar suatu organisasi yang ada, dapat
menjadi lebih efektif, serta lebih efisien.
7. Persoalan Psikososial
Dorongan untuk adanya perubahan sering kali muncul dari system
psikososial. Kita mengetahui, bahwa keberhasilan dalam hal mencapai
tujuan-tujuan keorganisasian hingga tingkat tertentu tergantung pada
faktor-faktor manusia. Dinamika kelompok dapat menunjang kinerja
keorganisasian, atau menghalanginya. Kemampuan pihak manajemen untuk
memenganruhi serta memimpin perilaku merupakan pula sebuah factor kritikal. Perubahan-perubahan
yang terjadi pada sebagian atau
keseluruhan variable yang dikemukakan, dapat menyebabkan menimbulkan
perubahan-perubahan nyata dalam kinerja keorganisasian.
8. Persoalan Manajerial
System
manajerial terlibat dalam kegiatan perencanaan dan pengawasan kegiaan-kegiatan
keorganisasian, melalui sebuah system informasi keputusan. Adapun peranan
manajerial mencakup upaya mempertahankan suatu keseimbangan dinamika antara
kebutuhan akan stabilitas keorganisasian dan kontinuitas, serta kebutuhan terhadap
penyesuaian-penyesuaian(adaptasi) serta inovasi. Pada kebanyakan organisasi,
sang manajer menghadapi kebutuhan untuk mempercepat perubahan baik pada
suprasistem lingkungan eksternal, maupun pada subsistem-subsistem
manajerial.perlu diingat bahwa upaya mempercepat perubahan, juga menimbulkan
kekompleksan yang kian meningkat. Sang manajer senantiasa terlibat dalam hal
mendiaknosis situasi-situasi dan menemukan serta memahami
kontingensi-kontingensi, sewaktu ia merencanakan serta mengontrol kegiatan-kegiatan
manajerial.
APAKAH SEBABNYA
PERUBAHAN SERING KALI DITENTANG ?
1.
Pengantar
Dalam kenyataan, kita sering kali melihat
adanya sikap menentang terhadap perubahan, yang kadang-kadang memanifestasi
diri dari wujud: pemogokan, demonstrasi-demonstrasi, sengaja bekerja lambat
(slow-down), dan protes-protes. Adalah lebih sulit untuk menghadapi tentangan
implicit, seperti misalnya motivasi yang merosot,atau loyalitas yang makin
“menyusut”, terjadinya kesalahan-kesalahan, terlampau mencoloknya absennya
karyawan dan sikap kurang menyetujui perubahan.
Tetapi, segera perlu diingat bahwa sekali
telah diketemukan tentangan demikian, bukanlah berarti bahwa hal tersebut
segera perlu ditiadakan. Ada kalanya tentang terhadap perubahan bersifat
menguntungkan, karena ia memajukan konflik fungsional dan timbulnya
perdebatan-perdebatan yang dapat membantu mengembangkan analisis secara lebih
mendalam tentang altrnatif-alternatif
yang ad, dan dampak mereka (tentu keberhasilan). Tetapi ada kalanya
tentangan berlebihan atau apa yang dinamakan tentangan yang bersifat irasional,
dapat menghambat kemajuan organisasi yang bersangkutan, dan bahkan ketahanan
organisasi tersebut, terutama apabila para pesaing bertindak lebih cepat.
2.
Sejumlah
Alasan Mengapa Individu-individu Menentang Perubahan (Likert, 1967)
Para individu
pada semua tingkat keorganisasian cenderung menentang perubahan. Teori-teori
tentang organisasi dan perilaku keorganisasian mengajarkan kita bahwa
kepribadian, persepsi, pembelajaran, dan motivasi merupakan karakteristik-katakteristik
dasar, individu-individu yang menyebabkan mereka cenderung menentang perubahan.
Marilah kini kita mempelajari sejumlah alas an mengapa individu-individu
menentang perubahan.
Persepsi Selektif
Kita mengetahui
bbahwa manusia sering kali mempersepsi hal yang sma dengan cara yang
berbeda-beda. Andai kata perubahan terjadi, maka para individu cenderung
memusatkan perhatian mereka pada persoalan bagaimana mereka mendapatkan
pengaruuh secara pribadi, daripada memandang gambaran lebih luas tentang perubahan
tersebut bagi organisasi di mana mereka bekerja.
Kurangya Informasi
Manusia
menentang perubahan, karena mereka tidak memiliki (cukup banyak) informasi
tentang apa yang diekspektasi dari perubahan tersebut, atau mengapa kiranya
perubahan tersebut demikian penting. Andaipun alas an-alasan bagi adanya
perubahan tidak diterangkan secara jelas, maka manusia cenderung mengisi
kekurangn-kekurangan informasi yang mereka rasakan dengan tindakan spekulasi,
yang kerap kali mengasumsi menekankan sisi keburukan dari pihak yang akan
melaksanakan perubahan tersebut, dan dampak buruk bagi diri pribadi mereka
masing-masing.
Perasaan Takut
Terhadap Hal yang Tidak Diketahui
Individu-individu
menentang perubahan apabila mereka tidak memiliki kepastian tentang bagaimana
perubahan tersebut akan memengaruhi kesejahteraan mereka.
Kebiasaan
Banyak orang
memprefensikan kegiatan dan kejadian-kejadian yang sudah biasa dihadapi mereka,
sekalipun hal tersebut tidak optimal. Perhatikan misalnya upaya seorang
perokok, yang ingin menghentikan kebiasaannya merokok. Mengubah sesuatu kebiasaan sangat sulit,
karena hal tersebut memerlukan upaya keras, dan hal itu juga berarti bahwa
terpaksa dikorbankan manfaat yang dipersepsi dalam piliran orang tentang
kebiasaan yang ada, sekalipun perilaku baru akan menimbulkan dampak yang lebih
menguntungkan.
Penolakan Terhadap Pihak yang Menginisiasi
Perubahan (Inisiator)
Andai kata sesuatu
perubahan terkesan bersifat arbitrer, atau tidak masuk akal, atau penetapan
waktunya, dan cara pengimplementasiannya kurang menarik minat orang-orang yang
diekspektasi melaksanakannya, maka akan timbul gejala, dimana sikap penolakan
dan amarah sering kali ditujukan kepada pihak yang memulai (menginisiasi)
perubahan tersebut.
SEJUMLAH KEKUATAN EKSTERNAL YANG MENYEBABKAN TIMBULNYA PERUBAHAN
(McSHANE, VON GLINOW, 2000: 468-470)
1.
Pengantar
Lingkungan
bisnis dewasa ini (terutama di Negara-negara Industrial maju) demikian cepatnya
mengalami perubahan, hingga sering kali orang terlambat bereaksi terhadapnya.
Ada seorang CEO perusahaan mobil Ford, yang
bernama Jacques Nasser, yang mengemukakan pendapat berikut: “… the pace of change is stunning… we have to
reevaluate our strategic assumptions every six months”. Pada tingkat
makroekonomi kita juga melihat, bahwa disebabkan karena perubahan berlangsung
demikian cepatnya,terutama pada indikator-indikator ekonomi makro, pemerintah
dalam periode-periode waktu tertentu merevisi asumsi-asumsi dalam APBN. Di
dalam lingkungan eksternal terdapat banyak kekuatan, tetapi boleh dikatakan
bahwa kekuatan-kekuatan utama berupa: teknologi computer, persaingan global dan
lokal, dan faktor-faktor demografis.
2.
Teknologi
Komputer
Teknologi
computer merupakan alas an utama, mengapa organisasi-organisasi mengalami
perubahan lingkungan yang demikian dramatic, serta cepat.
Secara lebih
spesifik, jejaring kerja system, yang menghubungkan computer-komputer di dunia,
secara dramatikal telah mengurangi waktu,dan jarang sudah tidak terlampau
merupakan masalah. Hal tersebut menurut McShane dan Von Glinow berkaitan dengan
apa yang dinamakan: hokum “Telecosm”(the
law of telecosms). Prinsip tersebut menyatakan, bahwa sewaktu jejaring kerja
computer berekspansi, maka jarak-jarak akan menyusut, dan pada saat tertentu,
jarak tidak relevan lagi.
3.
Persaingan
Global dan Lokal
Persaingan
global dan local yang makin meningkat saja, merupakan pula kekuatan dahsyat
yang mengharuskan adanya perubahan keorganisasian. Munculnya blog-blog
perniagaan di Amerika Utara, Eropa dan wilayah Asia Pasifik, dan
wilayah-wilayah lainya, menambahkan dimensi lain dalam konteks
kekuatan-kekuatan kompetitif tersebut.
Teknologi telah
memainkan peranan penting pula dalam hal meningkatkan persaingan global dan
lokal. Persaingan global dan lokal sering kali nenyebabkan timbulnya
restrukturisasi korporat. Agar memperkuat kemampuan bersaing mereka, banyak
perusahaan mengurangi lapisan-lapisan manajemen, dan ada pula yang menjual
divisi-divisi berupa karyawan-karyawan mereka, dan mereka mengurangi biaya gaji
dan upah melalui tindakan perampingan (downsizing).
Persaingan global juga telah mendorong
sejumlah besar merger dan akuisisi-akuisisi pada tahun-tahun belakangan ini.
4.
Factor
Demografis
Perusahaan-perusahaan
menyesuaikan diri mereka terhadap persaingan global, tetapi, disamping itu
mereka juga menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan didalam angkatan
kerja. Para karyawan dewasa ini, dimana-mana lebih berpendidikan, hingga
demikian mereka juga menuntut,keterlibatan lebih intensif dan pekerjaan yang
menarik.
MENGAPA ORGANISASI-ORGANISASI MENENTANG PERUBAHAN
1.
Dalam kenyataan terlihat gejala, bahwa
organisasi-organisasi menentang perubahan, karena alasan-alasan yang sama
seperti berlaku bagi praktik keorganisasian meminimasi penerimaan resiko,
apabila sebuah proses berlangsung secara memuaskan, maka sering kali muncul
perasaan enggan berubah, sampai mereka dipaksa untuk mengikuti perubahan.
2.
Stabilitas Struktural
Kita mengetahui bahwa pada umumnya
organisasi-organisasi menciptakan hierarki, subkelompok-subkelompok,
peraturan-peraturan, serta prosedur-prosedur guna memelihara ketertiban dan
guna membina perilaku.
3.
Suboptimasi Fungsional
Perbedaan-perbedaan dalam orientasi
fungsional, tujuan-tujuan, dan ketergantungan pada sumber daya dapat
menyebabkan timbulnya prtubahan-perubahan yang dianggap menguntunngkan, bagi
unit fungsional tertentu, tetapi yang oleh unit lainnya mungkin dianggap
merugikan, atau merupakan ancaman.
4.
Kultur Keorganisasian
Dalam teori perilaku keorganisasian, ada
pendapat yang mengatakan bahwa kultur keorganisasian maksudnya nilai-nilai,
norma-norma, dan ekspektasi-ekspektasi yang telah berakar, memengaruhi
cara-cara berfikir dan berperilaku yang dapat diprediksi. Para anggota
keorganisasian akan menentang perubahan yang menyebabkan merekan melepaskan
asumsi, dan cara-cara yang disepakati untuk melaksanakan tugas-tugas.
5.
Norma-norma Kelompok
Kelompok-kelompok pada umumnya mengembangkan
norma-norma mereka sendiri guna membantu pengembangan perilaku yang dianggap
baik (oleh mereka). Kebanyakan anggota organisasi, mengikuti norma-norma
tersebut, terutama pada kelompok-kelompok yang bersifat kohesif. Maka, setiap
perubahan yang menyebabkan rusaknya norma-norma kelompok, tugas-tugas, atau
hubungan-hubungan peranan cenderung ditentang.
MENGATASI TENTANGAN
TERHADAP PERUBAHAN
1. Pendidikan dan Komunikasi
Pesan yang disampaikan kepada para manajer
yan gingin melaksanakan proses perubahan adalah: upayakan agar supaya pihak-pihak
yang terlibat dalam perubahan tersebut mema-hami apa saja alas an dibelakang
tindakan perubahan tersebut, bagaimana bentuknya dan bagaimana dampak-dampak
yang dapat diduga akan timbul. Sekalipun, apabila menurut perkiraan dampak dari
perubahan tersebut akan bersifat positif, masih tetap diperlukan komunikasi
secara luas, guna mengurangi peraaan tidak tenang, dan agar orang-orang
memahami apa yang sedang berlangsung,
Apa saja yang diharapkan dari mereka, dan
bagaimana mereka akan dibantu dalam hal menyesuaikan diri terhadap perubahan
tersebut.
2. Partisipasi dan Keterlibatan
Bantulah dan berilah dorongan kepada semua
pihak yang terlibat dalam proses dan aktivitas perubahan tersebut untuk
membantu mendesain dan mengimplementasi perubahan-perubahan tersebut, dalam
rangka upaya mendapatkan ide-ide mereka, dan untuk memastikan komitmen mereka.
3. Fasilitas dan Bantuan
Berilah dorongan, bantuan, pelatihan,
konseling dan sumber-sumber daya kepada semua pihak yang dipengaruhi oleh
perubahan tersebut, guna membantu mereka menyesuaikan diri terhadap
tuntutan-tuntutan baru yang muncul. Dengan jalan menerima dan memaha-mi sikap
gelisah para karyawan sebagai sesuatu yang alamiah, dan dengan jalan memban-tu
mereka menghadapi perubahan, berarti bahwa para manajer lebih banyak peluang un-tuk
mendapat perpek dari mereka, dan komitmen mereka dalam upaya menyukseskan perubahan
tersebut.
4. Negosiasi dan Persetujuan
Tawaran-tawaran untuk menyediakan
insentif-intensif sebagai imbalan untuk persetujuan menerima perubahan. Taktik demikian
kerap kali diperlukan, apabila kita menghadapi sejumlah pihak yang menentang
perubahan dengan kuatnya. Adakalanya hal-hal tertentu apat ditawarkan sebagai
imbalan untuk menerima suatu perubahan.
5. Manipulasi dan Kooptasi
Maipulasi berarti mengatur dan secara
selektif memanfaatkan informasi dan insentif-intensif yang terimplikasi guna
memaksimasi kemungkinan penerimaan (terhadap perubahan). Salah satu contoh
adalah: apabila pihak manajemen menerangkan kepada karyawan mereka bahwa mereka
terpaksa harus meneriman gaji/upah, untuk menghindari ditutupnya perusahaan
mereka.
APA SAJAKAH YANG
PERLU DIUBAH
Empat kelompok perubahan penting,
yakni:
1.
Perubahan strategik;
2.
Perubahan teknologikal;
3.
Perubahan structural;
4.
Perubahan manusia.
Marilah kita mempelajari lebih lanjut. (Sweeney, McFarlin, 2002:
397-398).
Perubahan
strategik
Dalam praktik, terlihat bahwa
perusahaan-perusahaan sering kali mengubah tujuan-tujuan dan taktik-taktik
mereka. Adakalanya rencana-rencana tersebut merupakan sebuah variasi tentang
sebuah tema umum, yang dispesifikasikan pada pernyataan tentang misi korporasi,
atau di tempat lain. Kiranya jelas, bahwa perubahan strategik, merupakan sebuah
pilihan penting untuk melaksanakan transformasi keorganisasian.
Perubahan Teknologikal
Tipe perubahan ini juga memiliki
rentang luas, dari perubahan kecil (yang kurang berarti) hingga perubahan yang
bersifat kolosal. Biasanya orang awam, begitu mendengar istilah perubahan
teknologikal, langsung menghubungkannya dengan kegiatankomputerisasi. Memang
harus diakui, bahwa perubahan-perubahan yang ditimbulkan oleh computer sangat
jauh.
Perubahan Struktural
Ada macam-macam metode untuk
merestrukturisasi organisasi-organisasi salah satu contohnya adalah, tindakan
untuk “mempertipis” (flattening)
sebuah perusahaan, guna mengurangi inefisiensi birokratik, dan untuk merangsang
inisiatif para karyawan. Tindakan reengineering
dan tindakan-tindakan downsizing juga
merupakan pilihan-pilihan untuk menyelenggarakan perubahan stuktural.
Perubahan Manusia
Jelas kiranya bahwa rencana-rencana
strategis, pada akhirnya perlu dilaksanakan oleh para karyawan. Kita perlu
berfikir melalui perubahan-perubahan yang berkaitan dengan manusia, seperti
halnya perubahan yang terjadi dalam bidang teknologi atau bidang lainnya.
Berulang kali telah kita mendengar bahwa sering kali dihadapi tentangan hebat
terhadap perubahan, dari pihak karyawan, (maupun dari pihak manajer sendiri).
Maka dengan demikian rencana-rencana untuk perubahan yang berkaitan dengan
manusia, perlu diintegrasi ke dalam strategi korporasi.
Sumber Referensi : Buku Manajemen Perubahan (Management
Of Change)
Oleh Prof. Dr. J. Winardi, SE.
Penerbit : Kencana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar